Saturday, February 10, 2018

Menjelang Tidur

Ntahlah, bukan berarti aku tak tau. Tapi ungkapan itu lebih tepat kiranya saat ini mewakili perasaanku, jika bingung itu bukan aku, sekarang dia adalah bagian dari kesaharianku.
Ntahlah, mungkin aku yang terlalu betah berlama-lama disini meski banyak berkata aku masih bisa berjalan, tapi aku begitu lelah hingga aku butuh istrahat sejenak berharap bisa melangkah lebih jauh lagi.
Ntahlah, hati ini begitu betah mengingatmu dan selalu membangun harapan yang nyata telah lama hilang. Aku maaih menganggap dia baik-baik saja.
Mungkin aku memang buta, bagi mereka yang melihat aku terlalu mengemis dengan nada sedih untuk sebuah keutuhan. Aku merasa aku masih kuat bertahan, hingga berapa banyak orang untuk mengajakku untuk bangkit, bukan nya tidak mau, tapi karena perasaan ini akan selalu terbawa kemanapun pergi. Aku lupa dengan diriku,yang ku ingat aku punya rasa yang besar untuk ku perjuangkan. Angin selalu mengingatkan ku untuk berhenti dan coba dengan suara yang datang, tapi lagi-lagi aku masih saja terlalu betah melawan angin. Aku tetap disini, seakan semua selalu baik-baik saja.
Aku memegang dada memastikan aku masih bernafas, sesakali terasa sesak, aku selalu berdoa untuk jalan terbaik tapi aku tidak bisa mengalahkan perasaanku dan aku masih saja betah menunggunya berubah sampai hari berlari begitu cepat. Dan kau masih tetap yang sama.
Ntahlah.Hatiku telah lelah, berbeda dengan sikapku. Aku masih saja menembus angin dan duduk sendirian.
Aneeeh. Iyaaa. Aku bahkan tak mengenal diriku. Yang ku tau aku punya perasaan dan itu kehidupanlu saat ini , aku ingin hidup bersamanya hingga semua perlahan menghilang dan aku ingin sekali menghilang dan aku lupa dengan semua dan kembali bahwa aku lebih senang seperti dulu tanpa siapapun yang aku pedulikan

No comments:

Post a Comment