Selamat siang dan selamat menikmati makan siang sobat semua,,,
Ditengah waktu santai ini, saya coba menelisik tentang trending topik yang banyak menimbulkan pro dan kontra ditengah masyarakat khususnya di jagat internet dan salah satu acara talk show yang memiliki rating yang cukup tinggi tertarik mengundang mereka sekelompok pemuda yang namanya mahasiswa untuk memberikan keterangan didepan layar kaca prihal aksi kartu kuning yang dikeluarkan untuk pemimpin tertinggi negara demokrasi yaitu bapak Ir.Joko Widodo saat menghadiri acara Dies Natalis Universitas Indonesia.
Kronolagi kartu kuning yang diberikan oleh salah satu mahasiswa Universitas Indonesia sekaligus Ketua BEM UI 2018.
Aksi yang dilakukan salah satu mahasiwa atas nama Zadit Taqwa, beliau adalah ketua BEM UI 2018 yaitu memberikan kartu kuning dan meniupkan pluit saat presiden Ir Joko Widodo akan menyampainkan pidatonya pada acara Dies Natalis Universitas Indonesia. Sebenarnya aksi yang dilakukan mahasiswa tersebut terbilang biasa-biasa saja namun yang sedikit menarik perhatian adalah keberaniannya yang sedikit melunturkan rasa sopan santun dan menghormati mengacungkan kartu kuning kepada petinggi negara yaitu presiden. Aksi yang dilakukan Zadit tidak terlalu lama sekitar kurang lebih 2 menit karena pasukan pengawal presiden Langsung beraksi dengan menarik keluar zadit yang dianggap bersikap kurang etis yang dapat mempengaruhi suasana Dies Natalis pada hari itu, namun karena sudah terlanjur diliput media maka aksi inipun banyak menimbulkan opini publik yang beragam, ada yang memujinya bak seorang pahlawan dan menganggap inilah sosok mahasiswa yang dibutuhkan saat ini dan ada juga yang menghardik terhadap aksi tersebut. Hampir seluruh media baik cetak maupun elektroni dan didominasi berita diinternet membuat berita tentang kartu kuning tersebut menjadi viral dan menghiasi laman depan berita nasional dan tidak ketinggalan juga media televisi ikut memberitakan aksi tersebut dan pada puncak nya Zadit dan beberapa BEM UNiversitas lainya diundang di acara talkshow tersohor di republik ini yaitu Mata Najwa. Setelah melakukan aksi tersebut zadit dkk melakukan konprensi pers untuk menjelaskan maksud dan tujuan nya melakukan aksi tersebut. Dalam penyampaian nya yang dihadiri oleh beberapa media, zadit menyampaikan bahwa kartu kuning yang diberikan sebagai peringatan kepada presiden atas kinerjanya yang belum selesai dan masih banyak yang harus disegera diselesaikan. Adapun tuntutannya tersebut terangkum dalam toga tuntutan yang pertama adalah permasalah gizi buruk yang terjadi di Asmat, Papua. Yang kedua adalah Fungsi Dwi ABRI dan ini terkait wacana Menteri Dalam Negeri (mendagri) yang mengangkat personil aktif militer untuk menjadi pejabat sementara kepala daerah yang sedang melaksanakan pemilihan kepala daerah. Dan yang ketiga adalah pembatasan kegiatan kampus.
Efek kartu kuning
Hampir sepekan aksi tersebut dilakukan dan puncaknya adalah saat sang revolusioner diundang ke talkshow yang katanya memiliki nuansa yang membuat siapa saja yang berada disana akan sedikit kebilnger jika tidak mampu menjawab setiap pertanyaan yang diajukam, bagaimana tidak talkshow yang dikomandoi oleh Najwa Shihab tersebut adalah acara yang mengundang orang-orang penting dan selalu membuat panas dan menarik setiap episodenya, tatapan yang tajam dengan sorot mata yang seakan mengancam membuat setiap narasumber seperti gemetaran menjawab pertanyaan mbak nana panggilan akran najwa shihab, dan pertanyaan yang kritis dan dalam kadang membuat narasumbernya tidak bisa bermain kata-kata dan memaksa mereka untuk jujur. Namun dengan gagah berani sang revolusioner hadir diacara tersebut yang disaksikan oleh jutaaan mata pemirsa seluruh Indonesia. Dalam acara mata najwa oleh yang disiarkan salah satu televisi swasta tersebut mengundang perwakilam beberapa kampus diantaranya yaitu BEM UI 2018, BEM UGM 2018, BEM ITB 2018 dan BEM IPB 2018 PRESMA TRISAKTI 2018. Selain itu hadir pula beberapa tokoh pergerakan seperti Bang Adrian Napitupulla, Desmon Mahesa dan Ahmad Johan. Turut hadir dalam forum tersebut yaitu bapak Moeldoko yaitu Kepala Staff Kpresidenan dan Menteri Riset dan Teknologi Perguruan Tinggi Bapak Muhammat Natsir. Perjalanan yang dimulai dari orasi singkat perwakilan mahasiswa dan dilanjutkan dengan diskusi. Setelah acara talkshow itu berlangsung banyak kesan yang timbul dari masyarakat terutama dari Bang Adrian Napitullu menyampaikan sekaligus berpesan kepada sang revolusioner, Jika ingin berjuang untuk rakyat maka kenali lah rakyat iru sendiri, coba turun langsung kerakyat dan rasakan hidup bersama mereka agar mengerti penderitaan yang dialami rakyat kenali bau rakyat agar lebih dekat dengan rakyat sehingga bisa mengetahui rakyat seperti apa. Bkan tahu tentang rakyat dari buku, ataupun berita yang berkembang. Pesan tersebut menjadi cambuk buat mahasiswa yang mengatasnamakan rakyat tapi tidak tau tentang rakyat dan beliaupun mengutip perkatasn soekarno, jika ingin tau tentang rakyat maka kau harus dekat dengan rakyat lebih dekat dari urat nadi. Pernyataan tersebut memberi cambuk buat mahasiswa yang hanya berkoar tanpa riset terlebih dahulu selain itu yang menarik dari acara tersebut yaitu pernyataan Zadit Taqwa yang mengeluarkan statmennya tentang jalan yang dibangun di Papua hanya dinikmati oleh segelintir orang berduit saja. Sontak pernyataan ini membuat orang merasa geli dang menganggap zadit kurang membaca buku dan kurang pengetahuan namun disamping itu ketua BEM UGM Obed Kresna menarik perhatian karena perhanyataan nya tentang peran mahasiswa sebagai intermediary actor.
Apapun yang terjadi saat ini, Mahasiswa tetap mahasiswa yang memiliki semangat yang berapi-api karena faktor darah muda yang mengalir disetiap sela uratnya yang membuat mereka begitu haus dengan aksi meski tanpa pikir. Semoga mahasiswa tetap pada idealismenya dan selalu jadi pelopor untuk sebuah perubahan.
Apapun yang terjadi saat ini, Mahasiswa tetap mahasiswa yang memiliki semangat yang berapi-api karena faktor darah muda yang mengalir disetiap sela uratnya yang membuat mereka begitu haus dengan aksi meski tanpa pikir. Semoga mahasiswa tetap pada idealismenya dan selalu jadi pelopor untuk sebuah perubahan.
No comments:
Post a Comment